Rabu, 24 Desember 2014

Sampai Kutemukan Jalannya

Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan untuk menjadi makhluk yang berakal, menjadikannya makhluk yang sempurna dihadapan-Nya. manusia dituntut untuk selalu mengerjakan sampai akhir batas kemampuan dirinya, karena itulah manusia diberi rasa lelah. bayangkan saja bila seandainya manusia tak memiliki rasa lelah, apa yang terjadi? sesungguhnya aku sendiri tak penah ingin membayangkannya.
Kartun,anime memang bagian dari hidupku, tak jarang aku bahkan menirunya. bukan soal berpaikan, tapi sifat dan makna yang dikatakannya. aku ingat beberapa kata yang bahkan selalu dingatanku sampai saat ini. perkataan mereka menggambarkan keadaan hatiku, menggambarkan kegundahan dan kebimbanganku karena itulah aku mengingatnya. tapi sebenarnya aku tak ingin mengingatnya, bagiku mengingat kata-kata tersebut menjadikan diriku bimbang.

tapi.. sepertinya aku sekarang sudah tak bimbang lagi, aku bisa menentukan pilihanku sendiri, dengan memahami arti diriku sebagai manusia biasa dan menjadikan objek seni sebagai proses pengembangan diriku. aku tak ingin meniru, aku hanya ingin berkembang sesuai kemampuanku. saat ada yang menyela dan tak menyukaiku, aku mulai berpikir bahwa aku mulai berkembang dan aku akan terus berjalan di dunia yang biru ini sampai akhirnya kutemukan jalan buntu. selama ini aku juga berharap bisa menemukan jalan pintas, yaitu jalan kembali kepadamu wahai wanita yang aku kecewakan.

Minggu, 21 Desember 2014

Disinilah Aku Berhenti

Menurut mereka yang suka bermain dengan cinta, katanya apapun perasaan yang ingin kamu katakan, katakanlah sebelum kamu benar-benar terlambat. Ini bukan soal waktu, tempat ataupun momen yang harus dipilih. Jika memang sudah saatnya katakanlah, sebelum kamu tak punya kesempatan lagi untuk mengatakannya.
                               Bisa saja itu benar, bagiku mengakatakan perihal tentang ‘cinta’ tak semudah mengatakan jawaban ketika kamu belajar dikelas. Ini soal hati, aku tak tahu apa yang terjadi jika suatu saat aku mengatakannya padamu. Hal yang selalu aku takutkan adalah resikonya, aku tak bisa menahan memikul beban resiko tersebut yang terlalu berat.
                               Tapi, aku tak mungkin terus memendamnya dalam hati, aku tak bisa terus sembunyi-sembunyi dihadapanmu dan berpura-pura seolah-olah aku akan menjadi sahabatmu selamanya. Menjadi sahabat yang selalu mendengar keluh kesalmu, menjadi sahabat yang harus menjawab setiap curhatmu. Maksutku, aku lakukan itu karna aku punya maksud berbeda.
                               Kini semuanya seolah aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakan kebenarannya kepadamu. Waktu seolah berhenti begitu saja, dunia yang seperti ini bagaikan neraka bagiku, tak ada yang bisa mengobati lubang dihati ini. Bahkan kamu yang aku sayangi, tak merasakan apapun, kamu mengaggap semuanya baik-baik saja, kamu menganggap aku ini hanyalah teman yang hanya berbicara bila kebetulan bertemu.

                               Aku sadar bahwa apa yang aku pendam ini, hanyalah menjadi cerita bagiku sendiri, tak ada kata spesial karna aku tak bisa memilikimu. Disinilah aku berhenti dan hanya melihatmu, diam tak berkata apa-apa lalu menyerahkan takdir ini kepada tuhan.
Perasaan yang sama, dengan orang yang berbeda.
                               Memang hidup ini seperti roda, kadang kala kita ditakdirkan berada di bawah juga ada saatnya kelak kita hidup diatas. Mungkin itu juga bisa diartikan bahwa sebuah hubungan tidaklah harus hanya di isi dengan kesenangan saja, namun ada saatnya hubungan kita memang harus mengalami masa-masa ketidakadilan. Pernah kah kau gelisah tentang hubungan kita yang seperti itu?
                               Melihatmu yang sudah mempunyai hubungan denganku, melihatmu yang kini sudah mulai sangat dekat dan menjalani hari-hari denganku. Ternyata membuat aku mengingat seseorang yang dulu pernah bersamaku, seseorang yang dulu tidak lupa membangunanku tidur dan mengingatkanku tentang kebiasaanku yang terlalu over protec.
                               Sedikit cerita yang belasan bulan bersamanya, kisah indah yang bahkan tak pernah bisa aku lupakan hingga sekarang, sebuah kesedihan dan kebahagian yang pernah kita bagi dahulu memang sungguh menyenangkan. Menghadapinya yang terlalu bawel dan egois sungguh membuat aku ingin mengulanginya. Mengenang juga tidak akan membuat kamu kembali, yang aku sayangkan adalah aku yang gagal sekarang juga tak dapat merubah apapun.
                               Sosokmu sekarang berada disini, berada di dirinya. Tatapan matanya, cara bicaranya, egois dan bawelnya sungguh mengingatkanku tentangmu. Jemari tangan yang kini aku genggap dengannya, aku mulai merasakan ‘ini adalah tanganmu’ perasaan yang sama ini tak pernah aku bosan meskipun dengan orang yang berbeda.

                               Aku takut kelak dirinya tahu bahwa yang aku lihat adalah bukan dirinya tapi kamu, kamu yang menjadi bayanganku kini mulai menjelma menjadi nyata. Oh Tuhan apa yang sebenarnya engkau rencanakan? ‘membuat dia kembali kepadaku, namun dengan orang yang berbeda’ begitu kah cara-Mu mengisi lubang hati yang semakin tak menentu ini?